Ads

Sunday, April 22, 2018

USULAN PROPOSAL PENELITIAN ANALISIS STRUKTURAL NOVEL SURGA SANG PRAMURIA KARYA ULLAN PRALIHANTA DAN PEMBELAJARANNYA DI SMA KELAS X

USULAN PROPOSAL PENELITIAN

ANALISIS STRUKTURAL NOVEL SURGA SANG PRAMURIA KARYA ULLAN PRALIHANTA DAN PEMBELAJARANNYA
DI SMA KELAS X
Disusun Oleh :
Beni Purna Indarta (112110012)

USULAN PENELITIAN

1. a. Judul Penelitian :             Analisis Struktural Novel Surga Sang Pramuria karya Ullan Pralihanta dan Pembelajarannya di SMA Kelas X
b. Bidang Penelitian : Sastra Indonesia
2. Identitas Peneliti
a. Nama : Beni Purna Indarta
b. NIM : 112110012
c. Program Studi : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
d. Fakultas : Keguruan dan Ilmu Pendidikan
3. Identitas Dosen Pembimbing I
a. Nama : Prof. Dr. H. Sukirno, M. Pd
b. NIP : 19560721 198403 1001
4. Identitas Dosen Pembimbing II
a. Nama : Joko Purwanto, M.Pd
b. NIP : -

                                                                                                                               Purworejo, Juni 2014
Dosen Pembimbing I,
Dosen Pembimbing II,
Peneliti,



Prof. Dr. H. Sukirno, M. Pd
NIP 19560721 198403 1001




Joko Purwanto, M.Pd
NIP -




Beni Purna Indarta
NIM 112110012

Mengetahui,
Kepala Program Studi PBSI


Drs. H. Bagiya, M.Hum.
NIP 196402081990031002


USULAN PENELITIAN

Usulan penelitian ini berisi latar belakang masalah, penegasan istilah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, tinjauan pustaka dan kajian teoretis, serta metode penelitian terdiri dari objek penelitian, fokus penelitian, sumber data, instrument penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, teknik penyajian hasil analisis data, daftar pustaka. 

I.  PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Karya sastra pada dasarnya adalah sebuah refleksi kehidupan yang dialami, direnungkan, dan dilihat secara intensif dengan daya imajinatif pengarang yang kemudian disajikan melalui bahasa pengarangnya. Jadi, karya sastra tercipta untuk mengungkapkan masalah hidup dalam masyarakat yang dapat dilihat, dirasakan, dan direnungkan.
Karya sastra diciptakan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Hal itu disebabkan manusia memerlukan karya sastra. Seorang pemikir Romawi bernama Horatius mengemukakan istilah dulce et utile yang berarti bahwa sastra memiliki fungsi ganda, yakni menghibur dan sekaligus bermanfaat bagi pembacanya (Ginanjar, 2012 : 1).
Struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagian yang menjadi komponennya yang secara bersama membentuk kebulatan yang indah. Bagian tersebut akan menjadi berarti dan penting setelah ada dalam hubungan dengan bagian yang lain, serta bagaimana sumbangannya terhadap keseluruhan wacana (Nurgiyantoro, 2010 : 36).
Karya sastra yang dikhususkan pada prosa banyak membahas tentang analisis struktural. Analisis struktural merupakan prioritas pertama sebelum diterapkannya analisis yang lain. Hal itu berdasar bahwa karya sastra merupakan struktur yang kompleks, sehingga perlu adanya analisis dan memahami struktur tersebut. Tiap-tiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya, maknanya ditentukan oleh hubungannya dengan unsur-unsur lain yang terlibat dalam sebuah situasi. Makna unsur-unsur karya sastra itu hanya dapat dipahami dan dinilai sepenuhnya atas dasar tempat dan fungsi unsur itu dalam keseluruhan karya sastra (Teeuw dalam Pradopo, 2002 : 21).
Dalam rangka penelitian sastra, baik puisi, cerpen maupun novel ada beberapa model pendekatan (teori kritik tertentu) yang dapat diterapkan. Penerapan model itu sesuai konsep serta tata kerjanya masing-masing. Abrams dalam buku Teori penelitian Sastra (1994 : 69-70) menyatakan bahwa model yang memberi perhatian penuh pada karya sastra sebagai struktur yang otonom dengan toleransi intrinsik disebut pendekatan objektif artinya karya sastra dianggap sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Oleh karena itu untuk dapat memahami sebuah karya sastra harus dianalisis strukturnya.
Menurut Stanton (2007 : 11-25) analisis struktural terhadap karya sastra adalah menganalisis struktur ceritanya antara lain : tema dan masalah, fakta cerita terdiri dari tokoh dan penokohan, alur, latar, sarana sastra terdiri dari judul, sudut pandang, gaya bahasa atau nada, dan ironi.
Sastra berfungsi untuk menghibur karena menyajikan keindahan, memberikan makna terhadap suatu kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan) atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi (Ginanjar, 2012 : 1). Selain itu, sastra perlu diajarkan agar dapat memperluas budi pekerti dan mendewasakan manusia, mampu membangkitkan imajinasi serta menggugah rasa dan pemikiran para siswa dalam pertumbuhannya menjadi manusia yang utuh, sanggup berekspresi dan berapresiasi dengan baik. Penulis memilih judul Analisis struktural Novel Surga Sang Pramuria karena melihat beberapa faktor sebagai berikut :
  1. Novel Surga Sang Pramuria tidak hanya ceritanya yang menarik namun juga dapat dianalisis dengan teori struktural karena unsur-unsurnya tampak lengkap serta menyajikan kehidupan kaum termarjinalkan atas dasar kebobrokan moral dalam masyarakat.
  2. Dari pembacaannya Novel Surga Sang Pramuria mengandung nilai-nilai positif yang dapat diambil khususnya bagi para remaja agar tetap memperkuat iman supaya tidak terbawa oleh pergaulan yang semakin bebas dewasa ini.
  3. Sebagai calon guru, penulis merasa perlu memahami pembelajaran sastra sehingga guru mempunyai kompetensi di bidang sastra.
Dari latar belakang di atas, peneliti melakukan penelitian dengan judul “Analisis Struktural Novel Surga Sang Pramuria Karya Ullan Pralihanta dan Pembelajarannya di SMA.”


       B. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman pengertian judul di atas, penulis merasa perlu menegaskan kembali istilah-istilah tersebut.
  1. Analisis struktural ini membatasi diri pada karya sastra sebagai
sesuatu yang berdiri sendiri, terlepas dari soal pengarang dan pembaca. Dalam hal ini kritikus memandang karya sastra sebagai kebulatan makna akibat berpaduan visi dengan pemanfaatan bahasa sebagai alatnya. Perpaduan yang harmonis antara bentuk dan isi merupakan kemungkinan kuat untuk menghasilkan sastra yang bermutu (Semi, 1990 : 44-45).
  1. Novel adalah karangan prosa yang panjang megandung rangkaian cerita kehidupan seorang dengan orang sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku (Depdikbud, 2008 : 968).
  2. Surga Sang Pramuria adalah judul Novel karya Ullan Pralihanta yang diterbitkan oleh CV. Alif Gemilang Publishing.
  3. Pembelajaran SMA adalah proses atau cara mengajar Novel Surga Sang Pramuria kepada siswa SMA.
Berdasarkan penjelasan di atas “Analisis Struktur Novel Surga Sang Pramuria dan keterkaitan antar unsur (pembangunnya) pada novel tersebut, serta pembelajarannya di SMA.”

C.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang di atas, pokok masalah yang akan dikaji dapat dirumuskan sebagai berikut :
  1. Penelitian ditujukan untuk menemukan unsur struktural Novel Surga Sang Pramuria.
  2. Analisis hubungan antar unsur di dalam cerita Novel Surga Sang Pramuria, dilanjutkan dengan hubungan yang terdapat di dalam novel.
  3. Penelitian juga berupaya untuk menemukan bagaimana pembelajaran Novel Surga Sang Pramuria di SMA.
D.  Tujuan Penelitian dan Kegunaan
Penulisan skripsi dengan judul “Analisis Struktural Novel Surga Sang Pramuria Karya Ullan Pralihanta dan Pembelajarannya di SMA” mempunyai tujuan sebagai berikut :
  1. Menemukan unsur struktural dalam Novel Surga Sang Pramuria.
  2. Mendeskripsikan hubungan antar unsur di dalam Novel Surga Sang Pramuria.
  3. Mendeskripsikan pembelajaran Novel Surga Sang Pramuria di SMA.
Kegunaan penelitian pada Novel Surga Sang Pramuria Karya Ullan Pralihanta dapat ditinjau dari dua segi yaitu teoritis dan praktis.
  1. Segi Teoritis
Penulisan skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi kemajuan di bidang ilmu sastra khususnya terori struktural.
  1. Segi Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat dalam memahami dan menghargai karya-karya sastra serta dapat mengembangkan daya apresiasi sastra, khususnya kepada peminat dan penikmat sastra, sekaligus dapat memberikan masukan kepada pembelajaran sastra khususnya novel di SMA.



Thursday, April 19, 2018

Manajemen Produksi Teater

MANAJEMEN PRODUKSI TEATER
Oleh : Beni Purna I, S. Pd.

  1. Teater dalam Konsep Manajemen
Menurut Siswanto (2008:7) manajemen adalah ilmu dan seni dalam melakukan tindakan guna mencapai tujuan. Sebagai ilmu, manajemen mengakumulasikan sejumlah pengetahuan yang sistematis dalam melakukan suatu pekerjaan. Sementara, manajemen sebagai seni bukan seperti seni pada umumnya seperti musik, tari, drama, atau sastra. Sebagai seni, manajemen dilakukan berdasarkan olah rasa manusia atas kemahiran, keterampilan, pengalaman, dan ketekunan dalam bekerja untuk mencapai tujuan bersama.
Berkaitan dengan pementasan drama/teater, manajemen dapat diterapkan pada berbagai usaha dan kegiatan dari sekelompok manusia dalam mencapai tujuan yang telah disepakatinya. Dengan demikian, dalam menangani suatu pementasan teater, semua faktor utama seperti orang-orang yang bekerja di belakang panggung, seniman pelaku, petugas gedung dan pelayan penonton sudah seharusnya memiliki komitmen bersama, yaitu menggalang kerja sama dan bekerja bersama-sama untuk keberhasilan pertunjukan. Di Indonesia, pengetahuan dan pengalaman manajemen mulai dibutuhkan dan diterapkan dalam penyelenggaraan suatu pertunjukan, ketika peran tontonan bergeser menjadi hiburan atau kesenian populer yang digarap secara profesional.
Dalam bentuk yang lebih modern, pertunjukan teater diselenggarakan dengan cara yang profesional. Profesional dalam hal ini adalah adanya manajemen yang matang dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, dan pascaproduksinya”. (Wijaya, 2007:192)
Petikan di atas mengandung maksud bahwa profesionalisme dalam teater yang ditawarkan Putu Wijaya meliputi pengelolaan suatu pertunjukan seni—agar tujuan pementasan teater khususnya; bisa berjalan lancar dan berhasil dengan baik—penerapan manajemen sebagai ilmu dan seni sangat diperlukan. Bukan semata-mata untuk tujuan komersil, melainkan juga sebagai proses belajar. Dengan kata lain, ada beberapa hal pokok dan menjadi kunci dan sangat penting untuk dijadikan pegangan dalam mengatur jalannya suatu pertunjukan, di antaranya, sebelum mengadakan pertunjukan harus diketahui dahulu kapasitas pekerjaan yang akan dilakukan. Ini menyangkut masalah proses penentuan tujuan, perencanaan, pengaturan, pelaksanaan dan pengarahan atau penggerakan, serta pengawasan sampai tujuan.
Demikian juga dengan apa yang disebut dengan prinsip-prinsip manajemen, sebagai dalil-dalil umum manajemen mutlak harus dilaksanakan untuk dapat menjamin keberhasilan dalam mengelola suatu pertunjukan teater.

  1. Organisasi Pertunjukan
Organisasi pertunjukan menurut Rendra mempunyai dua unsur, yakni (a) unsur tata usaha (b) unsur tata kesenian.
  1. Unsur Tata Usaha
Unsur tata usaha adalah unsur organisasi yang menangani masalah yang tidak ada hubungannya dengan unsur kesenian. Adapun unsur perorangannya sebagai berikut.
  1. Produser
Kewajiban:
  1. Menyiapkan dan menyediakan kebutuhan seluruh pertunjukan
  2. Membagi keuntungan
Wewenang:
  1. Berhak mendapatkan laporan mengenai persiapan dan jalannya produksi dari ketua panitia.
  1. Ketua panitia
Kewajiban:
  1. Mengkoordinasi seluruh anggota panitia
  2. Memeriksa perkembangan pekerjaan
  3. Menyiapkan anggaran belanja dengan mengindahkan usulan dari seluruh anggota untuk diajukan kepada produser
  4. Memberikan laporan kepada produser, baik persiapan, proses, maupun hasil produksi.
  5. Bertanggung jawab mengurus izin pertunjukan dan persoalan pajak.
  6. Membentuk dan membubarkan panitia
  7. Memimpin kerja harian panitia pertunjukan
Wewenang:
  1. Mengerahkan tenaga dan usaha setiap anggota panitia sesuai dengan kewajiban masing-masing.
  2. Menentukan kebijaksanaan produksi nonartistik dan juga kebijaksanaan penjualan seluruh produksi pertunjukan
  1. Sekretaris
Kewajiban:
  1. Menyelenggarakan surat-menyurat
  2. Mengurus perbanyakan naskah pertunjukan
wewenang
  1. Mengurus dokumentasi tentang semua kegiatan pertunjukan
  2. Mewakili panitia apabila ia tidak hadir
  1. Pemegang buku keuangan
Kewajiban:
  1. Membuat pembukuan keuangan
  2. Melaporkan keadaan keuangan kepada ketua panitia secara periodik
Membantu ketua panitia dalam menyusun anggaran belanja 
 
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin dalam hal keluar masuk keuangan
  1. Kasir
Kewajiban:
  1. Menyimpan uang
  2. Membuat pembukuan keluar masuknya uang
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin dalam hal keluar masuk uang
  1. Pemegang karcis/tiket
Kewajiban:
  1. Pengadaan karcis/tiket pertunjukan
  2. Mengatur sirkulasi tiket dan mencatatnya
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin dalam hal penyimpanan dan keluar masuk tiket
  1. Pengurus publikasi
Kewajiban:
  1. Mempublikasikan pertunjukan
  2. Berurusan dengan wartawan mengenai semua pemberitaan tentang pertunjukan
Wewenang:
  1. Mencegah adanya pemberitaan negatif mengenai pertunjukan
  2. Menentukan rencana poster-poster dan bentuk publikasi lainnya
  1. Pengurus kendaraan
Kewajiban:
  1. Mengatur dengan praktis dan adil pemakaian semua kendaraan yang dipakai
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin dalam hal pemakaian kendaraan
  1. Pengurus kesejahteraan
Kewajiban:
  1. Mengurusi konsumsi makan dan minum pada saat diperlukan
  2. Mengurusi kesehatan pemain
  3. Mengurusi ruang latihan yang diperlukan
  4. Membantu panitia dalam hal umum bila diperlukan
  5. Mengurusi keamanan gedung pada waktu pertunjukan berlangsung
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin dalam bidang kesejahteraan
  2. Bebas memilih dan mengangkat para pembantu
  1. Pengurus gedung
Kewajiban:
  1. Mengurusi pengadaan gedung pertunjukan
  2. Mengurus penerimaan penonton
  3. Mengurus penjagaan pintu masuk pertunjukan
  4. Mengawasi kebutuhan penonton di dalam gedung
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin dalam hal pemakaian fasilitas gedung


  1. Unsur Tata Kesenian
Unsur tata kesenian adalah unsur organisasi yang berhubungan dengan “isi” semua kegiatan pertunjukan yang akan diseleggarakan. Oleh karena itu, unsur tata kesenian merupakan unsur terpenting. Mereka harus diberi suasana yang bisa memperkembangkan pikiran serta perlu dijaga agar mereka tak perlu berurusan dengan segi praktis tata usaha.
Adapun susunan perorangan kelompok ini adalah sebagai berikut.
  1. Sutradara
Wewenang:
  1. Menentukan naskah yang akan dimainkan
  2. Menentukan seluruh staf unsur tata kesenian
  3. Memilih pemain
  4. Menentukan jadwal latihan
  5. Menafsirkan isi pertunjukan
  6. Menentukan gaya permainan
  7. Memimpin latihan
  8. Mengkoordinasikan pekerjaan seluruh staf tata kesenian
  9. Memimpin jalannya pertunjukan
  10. Mempunyai hak veto bila ada pertentangan di dalam staf unsur kesenian
Kewajiban:
  1. Melaksanakan wewenangnya dengan seadil-adilnya terhadap ilham dan prakarsa orang lain di bawahnya.
  1. Asisten Sutradara
Wewenang
  1. Mewakili sutradara pada saat sutradara tidak hadir.
Kewajiban
  1. Menulis catatan penyutradaraan serinci mungkin
  2. Memimpin latihan secara rinci yang sudah digariskan oleh sutradara
  1. Penata seni rupa
Wewenang:
  1. Menentukan pemilihan bentuk dan warna yang berhubungan dengan semua unsur pertunjukan yang terlihat di panggung

Kewajiban:
  1. Menampung dan menefsirkan pikiran-pikiran sutradara
  2. Meminta persetujuan sutradara untuk setiap dasar rancangannya.
  1. Penata panggung
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin panggung yang diperlukan untuk menjaga dekor yang telah dibuat
  2. Bebas memilih dan mengangkat pembantu-pembantunya
Kewajiban:
  1. Membuat dekor yang rancangannya dibuat oleh penanta seni rupa
  2. Mengatur tatanan panggung
  3. Mengatur tempat duduk para pemain bila mereka menunggu giliran bermain
  4. Mengatur tempat berhias pemain
  5. Menjaga kebersihan dan kerapian panggung
  1. Penata pakaian/kostum
Wewenang:
  1. Menanyakan ukuran dan desain pakaian seluruh pemain
  2. Menegakkan disiplin yang berhubungan dengan memakai dan menyimpan pakaian
Kewajiban:
  1. Membuat rancangan pakaian dengan persetujuan dari sutradara dan penata seni rupa
  2. Melaksanakan pengadaan tata pakaian
  1. Penata rias
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin di kamar rias
Kewajiban:
  1. Melaksanakan tata rias sesuai persetujuan dengan sutradara
  2. Selalu bersiap-siap di tepi panggung sepanjang pertunjukan
  3. Membantu pemain menghapus rias seusai pertunjukan
  4. Menyimpan peralatan rias milik bersama
  5. Mengatur pengadaan alat rias
  1. Penata peralatan
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin dalam hal peralatan
Kewajiban:
  1. Membuat daftar semua alat yang dibutuhkan
  2. Mengatur pengadaan semua peralatan pemain dan peralatan panggung
  3. Menyediakan tempat di samping panggung untuk meletakan peralatan para pemain
  4. Selalu siap di sisi panggung selama pertunjukan berlangsung
  5. Menyimpan peralatan
  1. Penata lampu
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin yang berhubungan dengan pemasangan lampu-lampu panggung
  2. Mengadakan latihan pergantian tata lampu dalam pertunjukan
Kewajiban:
  1. Mengurus pengadaan lampu
  2. Membuat rancangan tata lampu
  3. Melaksanakan rancangan tata lampu
  4. Selalu menjaga meja switch board selama pertunjukan berlangsung
  1. Penata suara
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin
  2. Mengangkat dan memilih pembantunya
Kewajiban:
  1. Mengatur pengadaan semua peralatan tata suara
  2. Melaksanakan pengaturan tata suara dengan baik
  3. Siap di sisi panggung selama pertunjukan berlansung
  1. Penata musik
Wewenang:
  1. Memilih dan mengangkat pembantu-pembantunya
  2. Meminta kesempatan latihan dengan para pemain sebanyak mungkin
Kewajiban:
  1. Menciptakan tata musik yang disetujui oleh sutradara
  2. Melaksanakan tata musik
  1. Penata gerak
Wewenang:
  1. Menegakkan disiplin
Kewajiban:
  1. Menciptakan gerak tarian untuk kepentingan pertunjukan yang disetujui oleh sutradara
  2. Mengajarkan dan melatih tata gerak yang diperlukan oleh pemain
  3. Selalu siap di tempat latihan
  1. Para pemain
Wewenang:
  1. Berdebat sepuasnya dengan sutradara dalam menafsirkan peran yang dimainkan, atau tentang gaya permainan yang sudah diterapkan
Kewajiban:
  1. Selalu mengikuti latihan
  2. Mempelajari peran seteliti mungkin
  3. Memainkan peran dengan sebaik-baiknya

REFERENSI

Azhari, Muhammad. 2009. Manajemen Teater: Perencanaan dan Pementasan Drama/Teater di Perguruan Tinggi dan Sekolah Menengah. Palembang: Penerbit Unsri.
Leksono, Widya. 2007. Pembelajaran Teater untuk Remaja. Semarang: CV Cipta Prima Nusantara.
Rendra. 1976. Tentang Bermain Drama. Jakarta: PT Dunia Pustaka Jaya.
Rendra. 2007. Seni Drama untuk Remaja. Jakarta: Burungmerak Press.



LOWONGAN KERJA KHUSUS WANITA PT. BUSANA REMAJA AGRA CIPTA (SABTU, 14 JULI 2018)

LOWONGAN KERJA KHUSUS WANITA PT. BUSANA REMAJA AGRA CIPTA OPERATOR JAHIT,khusus WANITA (Bagi yang belum bisa menjahit ada pela...